Emily Steinwall : Welcome To The Garden Review

Emily Steinwall : cover

Emily Steinwall dapat menyatukan segala personalitas yang ada di dalam dirinya lewat proyek konseptual ini. Secara totalitas Emily Steinwall mampu memposisikan dirinya agar para audience turut merasakan apa yang dia rasakan. Perpaduan ego, rasa, tekstur, dan atmosfir dipadukan di album ini untuk membentuk sebuah alat yang mampu mengontrol setiap emosi individu yang terlibat di dalamnya.

Mencari ilmu sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi setiap umat manusia. Karena hidup ini merupakan sebuah proses perjalanan bagi setiap individu manusia agar dapat berkembang dan tumbuh sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Untuk berproses dibutuhkan ilmu sebagai bekal dan landasan untuk menjalankan proses tersebut. Tetapi ada satu formula agar keinginan yang didambakan bisa dicapai lebih cepat. Caranya sederhana, ilmu yang sudah didapat harus diterapkan dan diapplikasikan sehingga akan menghasilkan sebuah pengalaman. Kombinasi dari pengalaman dan ilmu akan membawa manusia ke tempat yang diinginkanya secara hampir pasti.

Saxophonist kelahiran Toronto, Emily Steinwall sepertinya mempercayai teori mengenai kombinasi formula ilmu dan pengalaman di atas. Selepas Emily menimba ilmu di perguruan tinggi musik Humbee. Dirinya langsung mengapplikasikan ilmu yang didapat dengan melamar sebagai penyanyi latar bagi pop star Canada, Alessia Cara. Selama 8 bulan bernyayi untuk Alessia, Emily mendapat banyak pengalaman yang berharga. Sebuah pengalaman yang tidak didapat Emily sebelumnya. Pengalaman ini juga yang mendorong jiwa Emily untuk menjadi seorang musisi seutuhnya. Setelah mendapat ilmu dan pengalaman yang cukup, dia memutuskan untuk lebih fokus pada karir musiknya dengan mendirikan projek solo.

Dimulai pada tahun 2018, Emily mulai aktif menulis dan merilis lagu di tahun tersebut. “Peace Theatre Sessions” menjadi album mini pertama yang dilepas Emily Steinwall. Tahun ini menjadi momentum bagi Emily untuk melepas album studio pertamanya. “Welcome To The Garden” sebuah projek konseptual yang mewakili Emily untuk menemukan jati dirinya dalam mengaransemen sebuah karya musik berformat album penuh. Emily dibantu dengan para musisi yang sudah bekerja bersama dengan dia sebelumnya. Joey Martel sebagai gitaris, Yunjin Claire Lee sebagai pianis, David Maclean sebagai bassist, dan Eric West sebagai drummer. Untuk menambah kedalaman tekstur, timbre, dan nuansa musik yang lebih sinematis, Emily turut mendatangkan vokalis tamu Georgia Harmer dan Kyla Charter, serta mengundang cellist Jill Sauerteig. Banyaknya orang yang terlibat membuat “Welcome To The Garden” menjadi seperti sebuah album teaterikal yang penuh dengan ide-ide kolektif.

Baca Juga : Dungeontroll : Mournful Melodies of Ophior’s Grotto Review

Emily Steinwall : photoshoot

Album langsung dibuka dengan track epik berdurasi 10 menit. “Welcome To The Garden” bagaikan sebuah lagu prolog yang cocok digunakan sebagai ritual untuk membangkitkan roh-roh jahat atau kekuatan negatif dari alam. Sejak detik awal, lagu ini berinteraksi dengan memberikan ancaman dan terror bernuansa mencekam. Vokal-vokal mantra ritualistik yang digunakan sedikit banyak mengingatkan akan karya-karya milik Goblin. Meski memiliki susunan lagu yang kompleks, namun flow dan build-up dari lagu ini bisa mengarahkan audience untuk langsung memahami core dari maksud lagu ini. Psychedelic synth, dark jazz piano, folky flute, dan solo saxophone yang eerie silih bergantian masuk dan melatari musik dengan tanpa hentinya memberikan terror. Tidak lupa vokal Emily Steinwall yang bisa menghipnotis dan menjerat siapa saja untuk masuk ke dalam dunia fantasi gelap miliknya.

Track selanjutnya, “Bloom” memiliki latar dan nuansa yang 180 derajat berbeda dari lagu sebelumnya. “Bloom” memiliki nuansa yang lebih dreamy, foggy, dan berkilau. Seperti tengah membuat sebuah kondisi “sleepwalking”, vokal Emily maupun Kyla lebih terdengar memiliki corak elemen chamber pop. Sektor instrument juga terdengar lebih santai dan warm. Departemen drum lebih memilih beat-beat bertipe jungle, sementara bass dan piano bersinergi untuk memberikan nuansa yang lebih tropikal. “Back To Earth” semakin meningkatkan gairah dari sisi romantisme Emilly. Meskipun track ini tredengar bersebrangan dengan track pembuka. Tetapi Emily mampu menuangkan emosinya secara totalitas namun dengan output musik yang berbeda. Kali ini sektor drum yang lebih banyak berduet bersama Emily untuk memainkan nuansa di lagu ini. Sementara Emily menarasikan lirik-lirik bertemakan romantisme terhadap cinta diri. Sektor drum memiliki sound yang lebih punchy dan berdenyut dengan lebih nyaring.

Track “Sorry” memiliki nuansa yang paling murung di antara lagu lainnya. Potongan bunyi-bunyian horn dan dentingan piano dengan interval nada minor semakin memperjelas nuansa kelabu di lagu ini. Sedikit plot twist dihadirkan pada lagu ini. Tiba-tiba muncul sebuah solo gitar dengan distorsi yang kasar, noisy yang memiliki sebuah peran seperti layaknya sebotol alkohol yang disaramkan pada sebuah luka.

“Everlasting Love” merupakan track outstanding lainnya yang terdapat di album ini. Dibuka dengan nuansa yang lebih up-beat dan riang, lagu ini lebih menawarkan elemen-elemen yang pop-ish, dibanding lagu lainnya. Hook-hook refrain backing vokal yang merupakan sebuah formula musik pop kontemporer diadopsi Emily pada lagu ini. Kelihaian improvisasi vokal Emily membuat lagu ini tidak terdengar cheesy, dan formulaic dari segi eksekusi. Track terakhir “Courage, My Love” disambut dengan petikan gitar yang terdengar lusuh dan usang. Lagu ini memiliki progersi kord yang tidak banyak berubah secara signifikan dan memiliki kesan seolah berjalan ditempat.

Sudah tak terhitung berapa banyak musisi modern yang mencoba output rekaman dengan mengikuti style musik era 60′ – 70’an. Namun tak banyak yang mampu mereplikasinya secara sempurna. Tetapi “Welcome of The Garden” berbeda, album ini menjalankan tugasnya dengan baik. Seluruh fragment elemen musik yang terkandung dapat bersinergi untuk memberikan rasa dejavu dan kesan bahwa album ini memang seperti direkam pada era lawas. Meski berlabel “jazz records” tetapi album ini memiliki formulasi musik yang kebanyakan mengadopsi elemen pop-ish dan opera. Setiap timbre lebih terasa menyatu secara kolektif ketimbang melakukan improvisasi untuk memiliki ceritanya masing-masing seperti rekaman plain atau free jazz pada umumnya.

Secara kualitas, songwriting, dan kepadatan materi album ini hampir mencapai level klimaksnya. Ketujuh lagu memiliki energi yang kuat dan berpotensi memiliki frekuensi repeatable play dengan nilai tinggi. Setiap lagu memiliki momen memorable dan karakteristiknya tersendiri. Tetapi kelemahan terbesar di album ini justru terletak pada diversity dari nuansa yang ditawarkan pada album ini. Ketika album dibuka dengan nuansa yang penuh gairah, sinematis, dan megah. Keenam track lainnya malah memiliki atmosfir yang lebih ringan, melankolis, dan tidak se-fantastis lagu pembukaannya. Sehingga album ini seperti memiliki sebuah kisalh epilog yang ditaruh pada bagian prolog cerita. Track terakhir juga menjadi titik lemah album ini. Meski tidak terlalu memiliki masalah serius karena perfomance Emily yang masih ciamik pada lagu ini. Tetapi section instrument kali ini tidak memancarkan sisi eksploratifnya untuk membantu komposisi lagu menjadi terdengar lebih colorful.

Emily Steinwall dapat menyatukan segala personalitas yang ada di dalam dirinya lewat proyek konseptual ini. Secara totalitas Emily Steinwall mampu memposisikan dirinya agar para audience turut merasakan apa yang dia rasakan. Perpaduan ego, rasa, tekstur, dan atmosfir dipadukan di album ini untuk membentuk sebuah alat yang mampu mengontrol setiap emosi individu yang terlibat di dalamnya.

Rating : 9 / 10

Baca Juga : George Benson : Livin’ Inside Your Love Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.