Choria : A Dismal Repertoire Review

Choria sudah mulai memahami betul potensi kekuatan inti sebenarnya dari musik black metal dan mereka mampu menyalurkan energi tersebut lewat opus keduanya.

Black metal sudah menjadi kendaraan yang dikendarai oleh sekelumit manusia yang bersandiwara di balik topeng black metal. Mereka melakukan hal tersebut hanya untuk semata-mata menyuarakan kepentingan-kepentingan tertentu. Penafsiran label-label generik yang berasal dari faktor luar terhadap musik black metal seperti musik yang mendukung aksi  satanisme, musik yang pro dengan aksi tindak extremis dan vandalisme seolah sudah menjadi pisau belati tumpul yang bahkan tidak sanggup digunakan untuk membuat goresan luka sekecil apapun. Namun ancaman justru datang dari dalam, ketika sekelompok elitist yang menyusupi scene ini dengan segala kepentingan dan opininya seolah membuat medan pertempurannya sendiri. Seolah sedang membuat bom waktu di tubuhnya yang dapat meledak kapanpun. Beruntung ada sebuah energy yang setidaknya masih bisa mempersatukan setiap individu manusia ketika individu tersebut menghubungkan jiwanya dengan musik black metal. Black metal selalu menyalurkan energy yang dapat masuk ke dalam sekat-sekat setiap sisi kegelapan manusia dan mengksploitasi segala unsur yang ada di dalamnya.

Menyadari dengan potensi kekuatan inti sebenarnya dari musik black metal, Choria seolah mencoba mempelajari bagaimana energy dan kekuatan tersebut bekerja secara sempurna. Choria mulai membangun fondasi energy tersebut sejak album debut mereka yang berjudul Black Street Beyond Nature. Album tersebut berhasil  membangkitkan nuansa dan gairah yang memiliki kesan kolosal, epic, dan memberikan sebuah kesan panorama yang sejuk. Tetapi album Black Street Beyond Nature belum secara utuh menyalurkan energy black metal sesungguhnya. Choria pun memutuskan untuk menyempurnakannya dengan mengambil waktu 3 tahun untuk membuat musik  yang dapat memancarkan energy black metal secara utuh. Setelah penantian yang cukup panjang akhirnya album kedua yang bertajuk A Dismal Repertoire adalah sebuah jawaban dari bentuk pergerakan evolusi selanjutnya dari Choria.    

Album A Dismal Repertoire dibuka dengan track instrumental berdurasi 2 menit yang berjudul “Dark Repertoire”. “Dark Repertoire” seolah seperti alarm peringatan awal bahwa ada sesuatu yang membahayakan akan terjadi selanjutnya di album ini. Karakteristik riff Choria secara kontras langsung terlihat perbedaanya pada track pembuka ini jika dibandingkan dengan materi sebelumnya. Kali ini terasa lebih pekat, grim, dan meninggalkan kesan-kesan melodi yang suram. Track selanjutnya terbagi menjadi 2 babak, yaitu “Maria’ Tale Part 1 : Thorn Queen”, dan“Maria’ Tale Part 2 : Sanguinary wrath”. Kedua track tersebut secara gambang langsung memperlihatkan sisi dimensi yang berbeda dari musik Choria. Kedua track tersebut memiliki atmosfir pekat, gelap  dan kelam. Tarikan vokal pun terdengar lebih painfull dari biasanya. Tetapi dibalik rentetan distorsi gitar dan dentuman drum yang membentuk serangkaian nada-nada hymne kegelapan, Choria masih turut menyisipkan elemen-elemen melody pada sektor gitar untuk sekedar memberi sedikit moment melankolis yang uplifting. Landscape dari kedua lagu ini pun dirasa pas karena tema lirik dari kedua lagu ini mengisahkan tentang seorang pria yang menyesali perbuatan keji dan dosanya pada masa lampau.

Terdapat campur aduk emosi kemarahan, penyesalan, dan kesedihan di sana yang cocok diterjemahkan ke dalam 2 lagu tersebut. Track berikutnya “The Mirage Of Onrust” langsung menggebrak dengan melody-melody riff yang berkesinambungan membuat serangkain nada-nada kelam. Choria memberikan sedikit elemen kejut pada lagu ini, dimana mereka menyisipkan “amming part section dengan aroma post-black metal yang pekat yang sedikit mengalihkan perhatian sejenak untuk berlarut-larut dalam perasaan melankolis dan moody. Tetapi Choria kembali menghardik dengan kemarahan selanjutnya. Di hampir seperpempat bagian akhir lagu, Choria terus memberikan komposisi musik dengan transisi-transisi yang tidak mudah ditebak arahannya namun dapat menyatukan sisa-sisa energy kemarahan di lagu ini. Siapa yang mengira di beberapa menit akhir lagu tiba-tiba muncul gebukan D-beat yang diiringi dengan hamparan tremolo riffing.

Baca Juga : Groza : The Redemptive End Review

Track kelima “Mausoleum Cerrbration” memiliki riffing-riffing yang terdengar lebih grim dan dingin. Landscape sound di lagu ini lebih cocok jika disandingkan dengan band-band black metal skandinavia yang memiliki panorama dan feel yang serupa. Selanjutnya track “Devourer Asociate” dibuka dengan sound keyboard dan clean vocal yang “ethereal”. Track ini Masih terdengar pekat seperti track sebelumnya tetapi track ini memiliki tekstur yang lebih dreamy dan berkabut. Track ini sedikit merepresentasikan tekstur sound atmospheric black metal dari band-band serupa seperti Winterfylleth, Woodensthrone, Drudkh. Track yang menghunus dengan melody-melody menyayat dibalik selubungan kabut yang tebal. Album ditutup dengan track berjudul “Sermon Of Demise” yang hanya diisi dengan deruan ombak, minimalistic chord piano, dan hembusan clean vocal gloomy dari Yoshin. Track ini seperti melepas energy kemarahan dan kekelaman yang sudah terkumpul sejak menit awal album ini. Tetapi track ini berakhir dengan meninggalkan kesan misterius yang memberikan isyarat bahwa mungkin akan muncul energy kemarahan dan kekelaman lainnya yang lebih besar dan siap untuk kembali menghampiri.

Evolusi yang ditunjukan Choria pada album A Dismal Repertoire berhasil untuk menyerap energy kekuatan black metal secara utuh. Choria pun memangkas durasi pada album ini menjadi hampir setengah jam lebih singkat jika dibandingkan dengan album debut mereka. Tetapi 7 track dengan durasi 38 menit dari keseluruhan album ini sudah dirasa cukup solid untuk memancarkan aura kegalapan yang menyeluruh di sepanjang perjalanan album ini dan disampaikan secara menjurus langsung ke inti dan tidak bertele-tele. Setiap track seolah memiliki karakteristiknya masing-masing yang tidak perlu digali lebih dalam lagi untuk menemukan momen-momen yang dapat di highlight pada setiap track. Choria pun banyak mengkonsolidasikan berbagai elemen sound yang berbeda seperti post-black, atmospheric black metal, d-beat, melodic black metal namun semuanya dapat bersinergi di bawah naungan spektrum yang serupa yaitu bertujuan untuk menghasilan komposisi musik black metal yang gelap, dan lebih personal. Permainan tekstur di album ini pun tidak hanya memberikan wow faktor pada khasanah perbendaharaan musik mereka tetapi juga dapat dijadikan senjata ampuh untuk mengaduk-aduk emosi para audiencenya.

Choria sudah berhasil menemukan serpihan evolusinya lewat album A Dismal Repertoire tetapi yang menjadi pertanyaan seperti apakah bentuk siklus Choria selanjutnya? Apakah akan berbentuk seperti sebuah lingkaran yang semuanya akan kembali ke awalan, atau seperti sebuah jalanan yang panjang yang tidak akan bergerak mundur ke belakang dan terus merengkuh serpihan-serpihan evolusi baru lainnya. Mungkin hanya waktu yang dapat menjawab tetapi yang jelas Choria sudah mulai memahami betul potensi kekuatan inti sebenarnya dari musik black metal dan mereka mampu menyalurkan energi tersebut lewat opus keduanya.

Rating : 8.5/10

Baca Juga : Abstract Void : Wishdream Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.