Foo Fighters : Medicine at Midnight Review

Medicine at Midnight bisa dijadikan sebuah album turning point bagi Dave Grohl dan kolega untuk memberikan insight baru pada tubuh musik Foo Fighters. Karena pada Medicine at Midnight, Foo Fighters membawa beragam elemen musik yang terdengar lebih bright, colorful, dan fresh.

Band alt rock yang sudah melalang buana di industri musik rock selama 25 tahun ini nampaknya tidak mau berlama-lama untuk berada di masa rehatnya. Setelah sang frontman Dave Grohl mengumumkan bahwa Foo Fighters akan break sejenak pada tahun 2018 lalu. Setahun berselang Dave Grohl berubah pikiran. Dikabarkan oleh sang drummer Taylor Hawkins, Foo Fighters tengah mempersiapkan materi anyar. Dave sendiri sebelumnya sudah mulai merekam beberapa lagu demo untuk album Medicine At Midnight. Namun album Medicine at Midnight yang dijadwalkan rilis tahun 2020 harus diundur dan akhirnya album ini dilepas ke publik pada tahun 2021.

Secara keseluruhan album Midnight At Medicine ini memiliki tonal yang berorientasi pada sensibilitas elemen musik disco, pop, AOR, funk yang dikonsolidasikan dengan format music alt rock / post grunge Foo Fighters biasanya. Warna musik baru Foo Fighters sudah langsung terdengar sejak track pembuka berjudul “Making A Fire” dikumandangkan. Riffing dengan karakter yang lebih bright dan juicy dipadukan dengan beat-beat drum groovy, berbaur dengan layer sound synth manis. Perpaduan elemen tersebut membuka album Medicine at Midnight ini dengan rasa optimis dan colorful. Format perpaduan beragam elemen tersebut juga banyak ditemukan disepanjang album Midnight at Medicine ini.

Pada beberapa lagu, Foo Fighters mencoba untuk melakukan sebuah pendekatan yang berbeda. Seperti misalnya pada track single mereka “Shame Shame” memiliki sense kuat terhadap musik art rock, disco yang mengambil referensi dari karya milik David Bowie. Lalu lagu “Medicine at Midnight” sendiri dibuka dengan funky bassline yang juicy dan groovy. Sementara lagu “Chasing Birds” dikemas dengan format semi akustik dan esensi vocal yang mengingatkan akan style dari musik rock 60-70’an, dimana harmony vokal Dave dilagu ini memiliki feel yang lebih dreamy, psychedelic dan soft. Selain itu refrain backing vocal gospel juga cukup banyak berseliweran melatari album ini.

Baca Juga : Tricot : Repeat Review

Foo Fighters menyisipkan lagu bernuansa semi akustik lainnya, yakni “Waiting on A War”. Tetapi album “Midnight at Medicine” jika dicermati lebih seksama memiliki pendekatan yang mirip dengan album musik disco 70’an, dimana Midnight At Medicine lebih fokus untuk menghasilkan rhythm bouncy, tempo yang upbeat, dan funky moment yang lebih cocok didengarkan sembari berdansa ketimbang dinikmati dengan berheadbang ria. Pengunaan elemen elektronik di album ini pun terdengar lebih wise, dimana eksekusinya dibungkus layer per layer dan tidak masuk secara bersamaan seperti yang dilakukan pada kebanyakan album musik EDM kontemporer.

Namun tentu ada harga yang harus dibayar ketika mencoba sebuah hal yang baru, dimana Foo Fighters harus sedikit mengurangi kadar orisinalitasnya agar sisi eksperimentasinya dapat lebih ditonjolkan. Dave Grohl seperti memiliki limitasi di album ini karena sudah tidak bisa leluasa memberikan riffing-riffing bernuansa heavy dan metallic seperti pada materi Foo Fighters sebelumnya. Tetapi bukan berarti album Medicine at Midnight sama sekali kehilangan energi hard rocknya. Karena lagu “No Son of Mine” lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Foo Fighters masih sanggup menulis lagu yang penuh dengan nuansa hard rock dan heavy metal. Pada lagu tersebut, Foo Fighter mencoba memanifestasikan riffing dari lagu “Ace Of Spades” milik mendiang Lemmy sebagai bentuk penghormatannya. Raungan distorsi gitar yang murky dan kasar juga masih tetap digunakan di album ini meski pengunaannya sudah lebih berkurang karena harus berbagi tempat dengan elemen musik lainnya. Tetapi setiap kali raungan distorsi gitar dikumandangkan nuansa hard rock di album ini tetap masih terasa nendang.     

Album Medicine at Midnight bisa dijadikan sebuah album turning point bagi Dave Grohl dan kolega untuk memberikan insight baru pada tubuh musik Foo Fighters. Karena pada Medicine at Midnight, Foo Fighters membawa beragam elemen musik yang terdengar lebih bright, colorful, dan fresh. Dave Grohl seakan sadar bahwa Foo Fighters bukan lagi band rock kemarin sore yang merekam lagu-lagunya di belakang garasi rumahnya dan membuat musik rock, grunge yang hanya berisi kemarahan dan keputusasaan. Tetapi Foo Fighters sudah bertransformasi menjadi sebuah band rock hits. Sehingga mereka membutuhkan sebuah format musik baru yang tidak hanya memenuhi idealis mereka sendiri tetapi juga lebih menjual.      

Rating : 8.5/10

Baca Juga : Raven Sad : The Leaf and The Wing Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.