Abbath : Outstrider Review

“Outstrider” seolah memberikan “insight” yang di terjemahkan oleh “Abbath” ke dalam bahasa “black metal”  tentang bagaimana nuansa dan panorama “Norwegia” sebenarnya yang mayoritas lingkunganya dikelilingi dengan hutan belantara yang memiliki nuansa yang dingin, gelap, dan mencekam.

Semenjak memutuskan untuk pecah aliansi bersama kedua rekannya di band Immortal pada tahun 2015. Olve Ekerno a.k.a Abbath memutuskan untuk memulai petualangan barunya untuk bersolo karir. Sadar dengan namanya yang sudah memiliki branding yang high profile. Abbath tidak perlu susah payah menggali lagi nama-nama demon dan dewa nordic sebagai ide nama project barunya. Abbath memutuskan untuk menggunakan nama panggung nya sendiri sebagai nama project solo barunya. Abbath pun jeli melihat peluang  ketika Immortal sedang menghadapi masa sulitnya dikarenakan Demonaz kebingungan untuk mencari pengganti Abbath. Abbath langsung dengan sigap memanfaatkan momentum tersebut dan mencuri “start” dengan merilis debut albumnya di tahun 2016. Sontak hal tersebut cukup membuat banyak pasang telinga fans Immortal untuk berpaling sejenak dan  melepas rindunya dengan mendengarkan album debut milik Abbath. 

3 Tahun berselang Abbath melepaskan album keduanya, Outstrider yang sekaligus juga merupakan ajang pembuktian bagi Abbath bahwa dia sudah berpaling sepenuhnya dari Immortal. Jika pada album debutnya, Abbath masih membuat album sequel dari All Shall Fall milik Immortal. Album Outstrider merupakan sebuah petualangan baru bagi Abbath tanpa sangkut pautnya sama sekali dengan Immortal. Ditengah penulisan dan penggarapan materi album Outstrider pada rentan waktu antara 2017 hingga 2018. Abbath secara mengejutkan mengganti seluruh personil yang berkontribusi pada album sebelumnya. Sektor bass yang tadinya dipegang oleh King (Ex-Gorgoroth,God Seed) digantikan oleh Mia Wallace. Departemen drum yang biasa dipegang oleh mahluk misterius dengan nama panggung Creature kali ini digantikan oleh Ukri Suvilheto (Whispered, Ex-Before The Dawn,Suvilheto). Terakhir Silmaeth harus rela menyerahkan strap gitarnya pada Ole Andre Farstard. Peristiwa ini seperti menekankan bahwa Abbath memang satu-satunya sosok otoriter di dalam bandnya tanpa memiliki ketergantungan pada personil lainnya.

Pada saat sesi wawancara, Abbath sendiri mengaku bahwa album Outstrider banyak terinspirasi dengan album-album metal lawas yang menjadi album favoritnya semasa muda bahkan menyebutkan album Ride The Lightning milik Metallica menjadi inspirasi utama pembuatan album Outstrider. Abbath berkata

Aku memikirkan untuk membuat cover lagu “Trapped Under Ice” dan juga banyak mendengarkan Judas Priest, Venom, Bathory album Blood Fire Death yang menjadi album favoritku. Tidak ada band yang paling berpengaruh bagi saya selain Bathory. Bahkan nampaknya tidak akan ada Norwegian Black Metal jika tidak ada Bathory, untuk itulah alasan saya mengapa saya menyertakan lagu “Pace Till Death” milik Bathory yang saya cover dan masukkan ke dalam album Outstrider.

Abbath

Outstrider punya rasa dan aroma yang lebih thrashy dengan rasa 80’s retro metal vibes yang  mengakar kuat jika dibandingkan dengan materi Abbath bersama Immortal. Abbath mencoba untuk memisahkan soundnya dari para pengusung orthodox black metal dengan cara tidak terlalu banyak melibatkan sector riffing dan drum dalam mengkonstruksi backdrop atmosfir dan nuansa grandnoise di album ini. Tetapi Abbath sendiri masih mempertahankan ciri khas riffing nya dengan tone gitar yang terdengar icy dan frosty pada setiap riff demi riff. Track “Calm In Ire” merupakan track yang sempurna sebagai pembuka, petikan akustik gitar dingin yang kemudian disambut dengan riffing berkecepatan mid-tempo dan perkusif drum seolah sebagai sambutan untuk memulai petualangan di dataran hutan belantara Norwegia dengan nuansa yang gelap, dingin,dan mencekam seolah seperti tidak memiliki kehidupan sama sekali di dalamnya.

Track “Bridge Of Sparms” dibuka dengan riffing dan blast beat bergaya norwegian black metal namun pada saat memasuki vocal, seketika bertransisi dengan memberikan punchline thrashy lengkap dengan gebukan drum yang punk-ish. Track selanjutnya “The Artifex” disambut dengan hantaman riffing thrashy bergaya band Testament. Tetapi The Artidex memiliki twist dengan memasukan transisi yang dikonsolidasikan dengan gaya epic heavy metal sejenis Dio, Manowar. “The Artifex” dilengkapi dengan solo gitar yang melodius nan epic serta beat beat Black’n Roll yang membaur menjadi satu. Track “Harvest Pyre” diracik seolah untuk menunjukan kepada Venom bagaimana caranya untuk meracik riff yang lebih cepat, dan memiliki nuansa yang lebih jahat. Head riff pada “Harvest Pyre” seperti manifestasi dari head riff lagu “Welcome To Hell” milik Venom namun memiliki speed rate 2x lebih cepat dengan transisi sound yang bergaya 2nd norwegian black metal esque. Track “Self-titled” menjadi salah satu track yang outstanding di album ini, dibuka dengan petikan suara gitar mirip dengan track pertama, namun kali ini lebih mengalir dengan tempo yang stuck dengan black’n’roll mid-paced kemudian didukung dengan backdrop lead guitar yang membangkitkan nuansa epic dan glorius pada lagu ini dengan Nordic-nordic scale yang diimplementasikan pada sektor lead gitar.

Baca Juga : Aorlhac : Pierres Brûlées Review

Durasi yang tidak terlalu panjang dengan waktu count play tidak melebihi 40 menit dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Abbath dan kolega. Outstrider tidak hanya menaruh snipet yang diambil dari berbagai band metal lawas kemudian ditempatkan disembarang tempat hanya semata untuk membangkitkan memori dan kesan retroish. Tetapi album ini memiliki misi yang lebih jauh dari sekedar melakukan hal tersebut. Abbath tidak membiarkan celah untuk menimbulkan kesan yang bland dan membosankan pada album Outstirder. Transisi, skill masing-masing personil, dan kualitas produksi yang well polished sudah lebih dari cukup untuk menutupi celah-celah tersebut pada album Outstrider. Outsrider memiliki positioning yang  serba menguntungkan. Karena secara materi, Outsrider memiliki peningkatan jika dibandingkan dengan album debutnya, terutama dari sisi produksi, dan kualitas tiap personil yang lebih mumpuni. Tetapi di lain sisi, Outstrider tidak perlu beranjak jauh dalam melakukan eksperimentasi dan masih mempertahankan chemistry khas racikan Abbath yang sudah melekat. Postioning ini membuat album Outstrider sudah hampir dapat dipastikan terhindar dari bulan-bulanan para fansnya. Karena fansnya sendiri memang lebih mengharapkan agar idolanya merilis album Black Metalyang solid dan nampaknya para fans pun sadar bahwa sosok pujaannya memang tidak memiliki kapasitas untuk bereksplorasi seperti layaknya seorang David Bowie yang melakukan perombakan dan eksperimentasi pada setiap jejak diskografianya. Sampai pada titik ini Outstrider seolah memberikan insight yang di terjemahkan oleh Abbath ke dalam bahasa Black Metal tentang bagaimana nuansa dan panorama Norwegia sebenarnya yang mayoritas lingkungannya dikelilingi dengan hutan belantara dan dikelilingi dengan nuansa yang suram dan dingin.

Rating : 8.5/10

Baca Juga : Baxaxaxa : Catacomb Cult Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.