Tyler, The Creator : Call Me If You Get Lost

Album Call Me If You Get Lost mempertegas seorang Tyler yang sudah berubah 180 derajat ketika pertama kali memulai karirnya hingga sekarang.

Nama Tyler, The Creator belakangan ini tengah mencuat di kancah scene hip hop global. Semuanya bermula ketika Tyler merilis album Flower Boy di tahun 2017 yang mengantarkan Tyler untuk menempati posisi nominasi grammy award. Tidak sampai disitu, 2 tahun berselang yakni Januari 2019, Tyler kembali menggegerkan scene hip hop dengan merilis album studio ke-5 nya yang berjudul IGOR. IGOR menjadi turning point bagi Tyler, dimana Tyler berperan sebagai rapper sekaligus songwriter & producer yang mampu mengubah kisah kisah emosional dan keresahannya menjadi sebuah bentuk karya hip hop yang monumental di sepanjang dekade 2010 kemarin. Tyler dielu-elukan menajdi sosok yang brilian dan genius di kancah scene hip-hop. Karena mampu mendeliver dan mendorong musikalitasnya untuk jauh lebih visioner, dan lebih terkonsep. Ide-ide yang ditawarkan pada album IGOR terlihat lebih segar, berani, dan dewasa. IGOR mampu membuat materi hip hop dengan pendekatan yang eksperimental & weirdo dengan banyak didasari persimpangan antara elemen Jazz, Lo-fi, RnB untuk bisa dinikmati oleh kalangan fans hip hop casual sekalipun. Klimaksnya ide perfeksionis dari seorang Tyler yang dituangkan pada album IGOR mampu mengantarkan Tyler untuk meraih penghargaan grammy pertamanya pada tahun 2020.

Namun yang menjadi pertanyaannya kemanakah arah dari musik Tyler setelah album IGOR? Tyler mencoba tantangan baru dengan mencoba sesuatu yang berbeda pada album studio ke-6 nya kali ini. Namun langkah perubahaan yang diambil oleh Tyler cukup unik. Tyler menemui DJ Drama dan meminta untuk berkolaborasi bersamanya. DJ Drama merupakan sosok yang telah berjasa mengedarkan rapper-rapper ternama lewat mixtape fenomenalnya yang berjudul “Gangsta Grillz”. Tyler pun tertarik merubah album Call Me If You Get Lost menjadi sebuah mixtape “Gangsta Grillz” versinya sendiri. Hal ini mendasari flow dari album Call Me If You Get Lost berjalan seperti sebuah mixtape hip hop lawas yang baru ditemukan dan diputar bertahun-tahun kemudian. Kualitas soundnya yang sengaja dibuat terdengar lebih kotor, raw, serta permainan tekstur antara lagu dengan lagu lainnya tidak memiliki sequencing terarah. Sehingga terdengar seperti sekumpulan lagu yang ditulis secara acak dan tidak menyatu secara kolektif. Tyler juga turut mengikuti tradisi lainnya dalam dunia per-mixtape-an, yaitu mengundang sejumlah rapper untuk berkolaborasi dengannya. Beberapa rapper yang dipilih diantaranya Lil Uzi Vert, Lil Wayne, NBA Young Boy, 42 Dougg, Ty Dolla Sign, Domo Genesis, & Pharrel Williams.

Baca Juga : Hip Hop 2021 Chartlist

Fame, kesuksesan, yang diraih oleh Tyler selama beberapa tahun kebelakang telah merubah sosok seorang Tyler menjadi figur yang berbeda ketika Tyler muda merilis album Goblin pada tahun 2011. Tyler yang mengkritisi para rapper-rapper braggadocio justru membuka album ini dengan track yang berjudul “SIR BAUDLAIRE”. “SIR BAUDLAIRE” dibalut dengan melody yang luxurious, nan megah serta diiringi dengan 4 bar rap line dari Tyler yang memamerkan private jet, Rolls-Royce, dan perjalanan liburan mewahnya. Entah Tyler menulis lirik di lagu itu sebagai bentuk satir untuk menyentil para rapper braggadocio atau tidak, tetapi track pembuka ini cukup membuat bertanya-tanya mengenai makna lagu tersebut. 2 Track selanjutnya Tyler mengisinya dengan porsi track yang terdengar lebih banger namun dengan pendekatan yang berbeda. Track  “Corso”  dilatari dengan elemen-elemen piano jazzy, boom bass, dan elemen synth yang icy. Sekilas intro shouting vokal dari Tyler mengingatkan style dari Wu-Tang Clan pada era 36Th Chamber. Sementara track “Lemonhead” lebih berorientasi dengan elemen-elemen trap beat bouncy yang seperti mengembalikan nuansa hip-hop di pertengahan decade 2000an. “Lemonhead” ditulis dengan vibe yang lebih badass, dan menghentak. Perfomance 42 Dugg di lagu ini pun mampu mendeliver rapline-rapline dengan attitude yang terkesan lebih agresif.

Track  “Wusayaname” sebagai track cooling down sejenak setelah digeber oleh 2 track dengan tipikal yang agresif. “Wuasyaname” punya vibe yang lebih joyfull, slow dengan elemen RnB 90’an yang langsung mengarahkan audience untuk membayangkan suasana berendam di sebuah kolam dan dikelilingi para wanita groupies. Sementara “Hot Wind Blows” mungkin track yang paling ditunggu dari jajaran tracklist lainnya karena terpampang nama Lil’Wayne yang akan mengisi salah satu verse di lagu tersebut. Vibe lagu ini masih serupa dengan lagu “Wiasyaname” namun terdengar lebih soulfull, dan jazzy. Lil’Wayne secara elegan mengisi rapline-rapline dengan pace yang lebih cepat di atas chord-chord piano yang jazzy. Hasilnya track ini seperti sebuah track neo-soul jazz yang diisi dengan monolog rapline yang colorful. Pada beberapa moment Tyler melakukan pendekatan retrospektif akan dirinya di masa lampau, contohnya pada track “MASSA”. Track tersebut mengingatkan kembali akan style dari Tyler ketika masih membuat album Goblin, Cherry Bomb, atau saat dia masih bergabung dengan Odd Future Wolf Gang. Album ini dilengkapi dengan sense sound Hip hop underground yang mengakar kuat. Warna bass yang terdengar lebih grim disertai dengan transisi sound lo fi mendominasi lagu ini. Tetapi ironisnya pada lagu “Massa”  Tyler mengkritisi dirinya sendiri ketika memproduksi album Cherry Bomb yang dinilai memiliki inkonsistensi dalam produksi soundnya. Tyler pun mengamini hujatan para fansnya tersebut dan mecantumkannya pada salah satu bar di lagu ini.

Yeah, when I turned twenty-three that’s when pubеrty finally hit me

My facial hair started growin’, my clothing ain’t really fit mе

That caterpillar went to cocoon, do you get me?

See, I was shiftin’, that’s really why Cherry Bomb sounded so shifty

My taste started changin’ from what it was when they met me

Track “Manifesto” mengembalikan sisi kritikal dari Tyler setelah sebelumnya lebih banyak bermain dengan permainan kata dan tema yang lebih banyak menceritakan personal, dan komedi. Track Manifesto kembali menyuarakan perlawanan Tyler terhadap Cancel Culture yang memang tengah marak belakangan ini terutama pada media sosial. Pada track ini juga Tyler sengaja mengundang Domo Genesis karena dinilai mampu memberikan lirik-lirik dengan skill dan nilai relevansi yang tinggi terhadap tema yang diangkat pada track ini. Track selanjutnya yang berjudul “SWEET / I THOUGH YOU” merupakan 2 buah track yang dipadukan menjadi sebuah track berdurasi 9 menit. Side-A yang diwakili oleh “SWEET” memiliki nuansa Rnb 90’an yang manis diiringi dengan tarikan vokal Fana Hues yang brilian dengan corak warna vocalnya yang kental dengan elemen Rnb dan neo-soul. Sementara side-B yang diwakili  “I THOUGH YOU” memiliki warna sound yang justru lebih mengarah ke elemen-elemen reggae jazz. Durasi 9 menit terasa tidak panjang dan membosankan karena Tyler secara brilian menyisipkan transisi-transisi dengan flow terasa cair. Track ini seperti menunjukan sisi kepiawan Tyler dalam sudut pandangnya sebagai produser, dan pengarah konsep sebuah lagu.

Sementara final side di album ini diawali dengan sebuah track interlude berjudul “MOMMA TALK” yang langsung diambil dari percakapan Tyler bersama ibunya. “JUGGERNAUT” bisa dibilang merupakan track pamungkas lainnya yang menjadi andalan di side akhir ini. Kolaborasi Tyler dengan rapper Lil Uzi Vert dan alternative rapper, Pharrel Williams secara bergantian mengisi bar-bar dengan in your face, banger. Sektor instrument pun dikonsepsi agar terdengar lebih groovy, bouncing, seperti mengingatkan karya-karya New Orleans hip hop dengan pendekatan yang lebih kontemporer karena turut disisipi ketukan ketukan trap. Album ditutup dengan track “Wilshere” & “Safari” dimana kedua track tersebut lebih difokuskan agar storytelling Tyler menjadi pusat utama dikedua track tersebut. Track “Wilshere” menjadi track terpanjang kedua di album ini tetapi bedanya instrument section pada track ini terkesan lebih statis dengan pola drum pattern, synth layer yang di looping dari awal hingga akhir. Sebagai konklusi, track “Safari” menutup dengan arah yang lebih agresif dan experimental secara instrument jika dibandingkan dengan track “Wilshere”. Sekali lagi Tyler menutup album ini dengan mengeluarkan lirik yang memiliki tendensius sebagai sebuah lirik yang mengandung unsur braggadocio. Tetapi Tyler menegaskan bahwasanya dirinya memang pantas untuk menulis lirik-lirik tersebut mengingat diposisinya sekarang. Tyler pun membungkus dengan pendekatan lirik dengan sudut pandang yang mungkin akan sulit dicerna ketika pertama kali mendengarnya, dan baru memahami maknanya kemudian.

Tentu album Call Me If You Get Lost tidak sepenuhnya sempurna. Tetapi overall album Call Me If You Get Lost  mempertegas seorang Tyler yang sudah berubah 180 derajat ketika pertama kali memulai karirnya hingga sekarang. Visinya sangat terpampang dengan jelas dan gamblang mulai dari memikirkan ide konsep keseluruhan album yang fresh dan berbeda. Kemudian cara dia mengeksekusi setiap bagian idenya tersebut untuk dituangkan ke dalam 16 track di album ini. Sementara Tyler juga mengalami perkembangan pada kemampuan teknisnya seperti bagaimana dia menyusun tema liriknya agar flow dari setiap lirik tersampaikan secara jelas dan runtut kepada pendengarnya. Kemudian teknik rapping yang lebih flex dan colorful membuat seorang Tyler menjadi lebih matang secara skill.

 Raing : 8.5 / 10

Baca Juga : Nas : King Disease II Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.