2022Boom BapConscious RapHip HopReviews

Black Thought & Danger Mouse – Cheat Codes – Review

Black-Thought-Danger-Mouse-Cheat-Codes-Cover

“Dalam ‘Cheat Codes’ Black Thought maupun Danger Mouse sepakat untuk merangkak pada gorong-gorong gelap dan masih mampu mengumpulkan sekantong pundi-pundi emas.

Tarik Luqmaan Trotter a.k.a Black Thought tidak diragukan lagi sebagai salah satu rapper bergelar G.O.A.T yang pernah dimiliki skena hip-hop New York. Rapper paruh baya kelahiran Philadelphia ini mulai dikenal luas ketika dirinya mendirikan kolektif hip-hop, The Roots pada 1987 bersama kawan lamanya, Ahmir Khalib Thompson

Sepanjang akhir dekade 90’ hingga awal 00’, The Roots banyak melepas album-album esensial. “Do You Want More?!!!??!” (1995), “Illadelph Halflife” (1996), “Things Fall Apart” (1999), dan “The Tipping Point” (2004) merupakan kumpulan album ‘The Roots’ yang terbukti memberikan kontribusi signifikan baik secara pihak personal grup maupun perkembangan hip-hop secara keseluruhan. 

Sementara The Roots mandek merilis album studio setelah ‘…And Then You Shoot Your Cousin’ (2014), sang leader memiliki jalan karirnya sendiri di sepanjang dekade 10. Terdapat 2 momen penting yang dapat meringkas kurva perjalanan karir Black Thought sepanjang dekade lalu. Pertama, aksi freestyle 10 menit mengagumkannya dalam acara “HOT Freestyle 97” milik Funkmaster Flex. Aksi tersebut telah mendatangkan banyak respon dan reaksi dari orang banyak, hingga mampu memasuki trending topik di Twitter maupun Youtube. 

Sementara momen penting lainnya dari Black Thought ialah proyek solo berseri-nya dengan judul “Stream of Thought”. Proyek ini sudah berlangsung sejak 2018 lalu, ketika ia merilis “Stream of Thought Vol.1”, dan sejauh ini ia sudah melepas 3 album. Proyek tersebut turut menggaet sejumlah produser hip-hop dan rapper ternama seperti 9th Wonder, Khrysis, Pusha-T, Killer Mike, Schoolboy Q, dan seterusnya. 

Black-Thought-Danger-Mouse-Cheat-Codes-Album

Langkah ambisius Black Thought berlanjut hingga memutuskan untuk merilis album bersama produser Brian Joseph Burton A.K.A Danger Mouse. Sejak sekian laman, keduanya membeberkan wacana terkait merilis album bersama, namun selalu digagalkan oleh rutinitas masing-masing, hingga akhirnya album penuh berjudul “Cheat Codes” dirilis tahun ini. “Cheat Codes” sekaligus menjadi album hip-hop pertama yang diproduseri tunggal oleh Danger Mouse, setelah 16 tahun lamanya. Terakhir kali ia melakukan upaya serupa ketika berkolaborasi bersama MF DOOM dan merilis “Danger DOOM” 2005 lalu.  

Dapat dikatakan evolusi Black Thought dalam menyikapi dan mengasah keterampilan rhyming merupakan manifestasi dari pemikiran orang banyak mengenai sebagaimana cara kerja evolusi seharusnya. Alih-alih seperti bocah-bocah Queensbridge pada usia belasan yang sudah dikaruniai pemikiran bijak dalam menyikapi realitas di sekitarnya, hingga menghasilkan puisi jalanan bersejarah seperti “Illmatic” (Nas), “The Infamous” (Mobb Deep), dan “The War Report” (Capone-N-Noreaga).

Black Thought selayaknya menjalani proses fermentasi anggur, dimana ia butuh bertahun-tahun untuk dapat menemukan bentuk paling proporsional dan ideal dalam melontarkan flow menusuk dan menyusun konteks lirik lebih presisi dan kompleks. Namun bisa dilihat sekarang, dengan usianya yang tidak lagi muda Black Thought lebih dari mampu melontarkan penggalan-penggalan lirik karismatik berkarakter kuat yang bermuatan komentar sosiopolitik, hingga menjalar pada berbagai fragmen substansi masalah lainnya seperti evolusi, peperangan, nilai filosofis, dan sejarah peradaban manusia. 

Kekuatan supervisi Black Thought yang dibawa dalam orbital instrumen ciptaan Danger Mouse terasa seperti formulasi tepat. Melihat kepiawaian sang produser dalam merangkai storyline instrumental utuh dengan teknik kolase sampling kemudian mendramatisasinya dengan pendekatan suara psych berkarakter masam, membuat Black Thought tidak memiliki opsi salah langkah untuk melontarkan kisah-kisah pedih, kritis, dan vulgar. 

Baca Juga : Elzhi / Georgia Anne Muldrow – Zhigeist – Review

Nas-Queensbridge-Rapper

Kesepakatan keduanya dalam melibatkan lebih jauh porsi instrumen dan kondimen lainnya ke dalam ranah emosional kontras terlihat ketika sepanjang rangkaian album ditemukan potongan-potongan piano melankolis, liukan saksofon sentimentil, dan tarikan hook-hook dari artis tamu. 

Permasalahan stagnasi dan kurang tanggapnya daya instrumen untuk bertumbuh secara emosional pada proyek “Stream of Thought” dapat teratasi dengan baik di sini. Kehadiran Danger Mouse yang meramu berbagai sampling bersumber dari musik-musik soul psych, soul funk dan jazz obscure serta vokalis tamu dari penyanyi soul kontemporer semacam Michael Kiwanuka, Kid Sister, dan Dylan Cartlidge langsung memberikan dampak instan. 

Seperti lagu pembuka, “Sometimes” yang dibuka oleh gesekan suara synth haru dan tarikan vokal elegan Gwen McCrae yang dimanipulasi menjadi suara bariton pria mengiringi secara perlahan flow Black Thought yang mengisi prolog secara tenang. Sesuatu tak lazim bagi Black Thought, mengingat pada kasus-kasus sebelumnya, ia selalu tergopoh-gopoh dan tidak sabaran untuk langsung menghardik dalam menyalurkan pemikirannya yang brutal dan kritis.

Tentunya dengan pendekatan instrumental yang memiliki rasa gritty selayaknya racikan underground hip-hop, dan frekuensi pitch yang diturunkan pada setiap sampel mampu membawa pendengar kembali pada era lawas. Namun bukan mengunjungi kembali zaman keemasan hip hop, melainkan melangkah untuk menghadapi masa-masa lalu yang terasa jauh dan dekat secara bersamaan. 

Tuts-tuts piano serta hook Sister Kid yang menari riang pada pembuka “The Darkest Part” terasa sesuatu familiar bagi pendengar WU selain karena salah satu personil mereka, Raekwon turut hadir pada lagu ini. Meskipun terdengar jelas timbre emas Raekwon menguap di sini, tetapi daya penulisan liriknya tidak sedikitpun memudar. Dirinya bahkan mampu meringkas dengan lugas makna keseluruhan lagu, pada baris paling akhir dalam verse-nya.   

Entah secara sadar atau tidak, keduanya seperti menaruh lagu-lagu yang berkarakter menghentak dan melankolis secara berselingan pada setengah album dan itu cukup meningkatkan level dinamis dari perpindahan tracklist. Meski tidak dipungkiri penempatan lagu “No Gold Teeth” selalu meruntuhkan sejenak momentum yang sudah dibangun dengan baik pada 3 lagu sebelumnya. 

Teksturnya yang lebih masam, berat, serta iringan bass bertekstur baja memaksakan sedikit penyesuaian sebelum merasa terhubung kembali. Bahkan di sini Black Thought seolah bergumul hebat dengan 2 masalah besar, dimana selain ia harus menceritakan sedikit pengalaman pahit semasa kecilnya hidup di Philly, Black Thought harus bersaing hebat dengan suara instrumen yang lebih riuh dan mendominasi di sini. 

Baca Juga : Kendrick Lamar – Mr.Morale & The Big Steppers – Review

“Belize” nampaknya lagu yang paling banyak ditunggu, karena terdapat nama MF DOOM terpampang di sana. Dengan instrumen lebih diatur pada upaya looping minimalis, ketukan saklar boom bap menggebrak, dan flow super intens dari kedua kubu yang ditaruh beriringan – secara totalitas memberikan salah satu highlight terbesar pada album dan tidak dipungkiri menjadi artefak selanjutnya bagi kultur hip-hop di masa mendatang.

Saya beranggapan bahwa Black Thought memiliki kesamaan dengan GZA, dimana secara irama, flow keduanya terdengar statis dan mampu ditebak arah selanjutnya, tetapi ini menjadi sebuah hak paten dan jaminan setiap delivery flow terasa lebih ketat dan meninju. Apalagi dengan kehadiran superstar hip-hop lainnya, yang mampu mengecilkan masalah ini tidak menjadi begitu berarti. 

Pada lagu “Strangers” adegan flow yang begitu intens dan melimpah kembali memuncak. Perang teknik serta kombinasi rhyme antara Black Thought bersama A$AP Rocky dan kru Run The Jewels (EL-P & Killer Mike) terus membredeli berbagai narasi topik Streetnology (kekerasan, gangster, rasisme, kesombongan jalanan) secara in your face. Sebuah materi perkuliahan yang membutuhkan waktu 4 tahun untuk meraih predikat Bachelor diringkas menjadi 4 menit super padat oleh 4 dosen terkemuka dan berpengalaman. 

Tak dipungkiri untaian kalimat panjang Black Thought yang diselipkan begitu banyak permainan internal rhyme membingungkan mampu membuat banyak orang mengernyitkan dahi, sembari bertanya-tanya makna terkubur di dalamnya. Agak-agaknya Black Thought seperti menelan 4 dari 6 infinity stones, sehingga ia seperti memperoleh kekuatan agung dari masing-masing batu tersebut. 

Kekuatan mind yang direpresentasikan melalui liriknya ia mampu menerjang masuk dan mengetahui isi pikiran orang lain. Seperti pada lagu “Saltwater” yang ditemukan penggalan kalimat: “I feel your mind spinnin’ in place and just bufferin” mengindikasikan pengetahuan Black Thought akan orang-orang di luaran sana yang selalu terperosok pada jebakan tidak berkembang dan terus membuang waktu.

Power dapat mewakili bagaimana ia memiliki kekuatan ekstra untuk mendorong kalimat-kalimat panjang hanya dalam sekali nafas tarikan. Ini memang kekuatan lama dari Black Thought yang nampaknya kembali dipertajam. Ia mampu menggunakan kekuatan time untuk melakukan teleportasi ke berbagai zaman dan literatur kuno. Hampir pada sepanjang titik kritis album, Black Thought banyak mereferensikan penggalan-penggalan lirik bermuatan sejarah, terutama pada literatur timur tengah kuno. 

Lagu paling pas untuk menggambarkan ini adalah “Aquamarine”. Dibuka oleh ratapan vokal Kinawa yang menggambarkan keadaan proto apokaliptik manusia, Black Thought menyambangi masa kepimpinan Raja Saladin, Raja Sulaiman, hingga menengok superpower dari pasukan berkuda Mongolian (“My name in the Quran like the kingdom of Suleiman / Now, bear down on the scene like I’m Saladin / In a class that I’m only in Alien, horsepower like a Mongolian”).

Sementara yang paling puncak ialah kekuatan manipulasi realitas, yang berkorelasi dengan status Black Thought saat ini. Merubah persepsi bahwa kesuksesan dan memperoleh kekayaan hanya mampu diraih oleh para kaum borjuis. Lahir dari lingkungan kelas sosial-pekerja, siapa sangka status Black Thought yang direvitalisasi mampu membuat banyak orang berpikir ulang mengenai siapa yang sejatinya layak dalam menduduki tahta 5 teratas dari rapper terbaik sepanjang masa.   

Sepanjang rentang album memang begitu banyak ditemukan potongan-potongan kisah heroik, motivational, kebijaksanaan, dan momen badass. Namun dalam area spesifik, Black Thought tidak segan untuk merobek dadanya dan menggergaji batok kepalanya demi memperlihatkan isi pikiran dan hatinya yang menghitam, melihat begitu banyak orang secara tidak langsung sedang menggali lubang kuburannya sendri. 

“Because” yang menghadirkan Dylan Cartlidge pada hook dan Joey Bada$$, serta Russ yang saling berbagi kesaksian dengan Thought, merundingkan model kehidupan sosial modern Amerika yang dihimpit oleh kriminalitas kekerasan anak, dan sudut-sudut gelap kota yang selalu mengintai nyawa yang melintasinya. “Identical Deaths” yang diiringi getaran vibraphone mendayu-dayu membuat Black Thought lebih nyaman dalam merefleksikan dirinya ketika masih berada pada sisi gelap dan bersikeras melawan iblis batinnya.  

Dalam ‘Cheat Codes’ Black Thought maupun Danger Mouse sepakat untuk merangkak pada gorong-gorong gelap dan masih mampu mengumpulkan sekantong pundi-pundi emas.Tidak ada rasa dan karakteristik yang berhubungan dengan gaya hip hop modern glamor di sini. Mereka selalu melakukan negasi untuk mengikuti arus, namun justru mereka mendapatkan timbal balik yang semakin mengokohkan eksistensi keduanya. 

Album ini boleh jadi merupakan bentuk sedikit rasa bersalah Black Thought ketika ia mengakui menjadi salah satu orang yang menciptakan gaya mumble rap. Ia berujar bahwa peran lirik sudah tidak lagi menjadi tajuk utama dalam musik hip-hop, sehingga atas dasar itu ia mencoba mengembalikan hal tersebut pada habitat asal. Upaya ini ia sudah dilakukan sejak “Stream of Thought” yang semakin menunjukan gelagat-gelagat peningkatan, seiring dengan berkembangnya waktu dan produktivitas Black Thought.

Tanpa mendiskreditkan talenta muda yang beberapa diantaranya memiliki anugrah penulisan lirik exceptional, kombinasi teknik unik Black Thought mampu menerapkan rahasia pembangunan teknologi 10x lebih canggih dari pesaing ala Peter Theil, dimana ini merupakan kunci monopoli paten dalam menghindarkan terhadap pasar persaingan bebas yang saling menjatuhkan. Dengan kata lain apa yang sudah diperbuat Black Thought sejauh ini mampu memperlebar jarak dengan “para kompetitor” dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengunggulinya.

Baca Juga : Denzel Curry – Melt My Eyez See Your Futures – Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link