Review Sederet Ost Sinetron Indonesia Ikonik

Pada kesempatan kali ini saya mencoba me-review sederet Ost sinetron Indonesia yang dianggap populer pada masanya dan sampai saat ini masih menjadi ikonik di mata masyarakat.

Sinetron dan dunia pertelevisian Indonesia nampaknya seperti suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Setiap tahun dan dekade silih berganti, sinetron tidak pernah absen dalam tayangan dan saluran televisi di Indonesia. Hasil survei nasional yang dilakukan oleh LSF (Lembaga Sensor Film) pada tahun 2021 menyatakan bahwa sinetron masih menempati urutan pertama sebagai program paling banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia yakni, sebesar 34.6%.

Dari segala jenis genre dan cerita sinetron lokal yang pernah tayang, ada beberapa sinetron yang menjadi tayangan terpopuler di masanya. Tak jarang beberapa sinetron lawas masih dianggap tayangan yang ikonik oleh masyarakat sampai saat ini. Banyak faktor yang membuat sebuah sinetron dapat dikatakan sebagai sebuah tayangan ikonik. Mulai dari alur cerita, latar, periode kemunculan, judul sinetron, hingga pemeran cerita menjadi faktor penentunya.

Tetapi ada satu faktor yang belum disebutkan di atas dan tak kalah pentingnya dalam menentukan sebuah sinetron sebagai tayangan ikonik. Hal tersebut adalah ost atau lagu tema dari setiap sinetron. Menurut pengamatan saya, setiap sinetron ikonik dilengkapi dengan ost yang tidak kalah ikoniknya pula.

Untuk itu kali ini saya mau mencoba me-review beberapa ost sinetron yang dianggap ikonik. Tentunya saya akan membuktikan apakah sederet ost sinetron ini memiliki kualitas dari sisi musikalitasnya atau tidak.

Jinny Oh Jinny (1997)

Ost-Sinetron-Jinny-Oh-Jinny

Rating : 8/10

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu film produksi Multivision Plus satu ini? Sinetron bergenre komedi yang dibintangi oleh Diana Pungky (Jinny), Inda L Bruggman (Bagus), Eko Dj (Baroto), dan Yusuf Surya (Jaka) ini nampaknya masih menjadi salah satu sinetron ikonik yang masih sering dibicarakan orang sampai saat ini.

Siapa sangka hanya dengan bermodalkan 4 peran utama, plot sederhana ditambah beberapa bintang tamu, film ini begitu sukses di masanya. Tentunya kisah asmara Jinny & Bagus, serta tingkah konyol dari bos mutiara laut, Eko baroto dan sahabat Bagus, jaka menjadi ujung tombak akan keberhasilan sinetron ini pada setiap episodenya.

Selain itu, sinetron Jinny oh Jinny ini dilengkapi dengan ost yang tidak kalah ikoniknya. Lagu ciptaan Didi Agp tersebut dimulai dengan intro memorable berupa berbagai bunyi-bunyian instrumen yang nampaknya terinspirasi dari musik Persia / timur tengah. Style produksi multi-layered membuat sesi instrumen lagu ini terdengar kaya dan padat untuk seukuran ost film.

Sektor vokal juga tidak kalah apiknya, meskipun tidak terlalu banyak menerapkan improvisasi dan mimik emosi di sana. Tetapi timbre dari vokal membuat lagu ini terdengar catchy dan tentunya memorable. Meskipun film ini sempat di remake beserta ost nya seperti Jinny Lagi Jinny Lagi (2002), Untung Ada Jinny (2004), dan Jinny Oh Jinny Datang Lagi (2016). Lagu orisinil dari series ini terasa masih paling melekat dan paling bagus secara musikalitas.

Jin dan Jun (1996)

Ost-Sinetron-Jin-dan-Jun

Rating 2 / 10

Akhir tahun 90’an Multivision Plus nampaknya tengah kerajingan membuat sinetron komedi yang mengandalkan plot pertemanan antara manusia dengan mahluk halus sebagai backbone ceritanya. Jin dan Jun (1996), Tuyul dan Mbak Yul (1997), dan Jinny Oh Jinny (1997) adalah contohnya. Tetapi meskipun mengandalkan plot yang tak jauh berbeda, justru ketiganya masuk ke dalam sinetron ikonik yang pernah dibuat dalam sejarah persinetronan Indonesia.

Jin dan Jun seperti judulnya, menceritakan tentang seorang bocah SMA, bernama Junaedi yang menemukan sebuah botol di tepi pantai. Tak disangka botol tersebut berisi Jin Mustopha dari timur tengah yang terkurung selama ribuan tahun di dalam botol tersebut. Karena Jun berhasil membebaskan sang Jin, akhirnya dia memutuskan mengabdi pada Jun dan kisah petualangan Jin dan Jun inilah dimulai.

Sejatinya Jin dan Jun memiliki 2versi ost berbeda yaitu pada saat pembukaan film dan penutupan. Namun saya rasa versi pembukaan terdengar lebih ikonik. Tetapi serius, secara muskalitas maaf kata ost ini tidak dapat berbicara banyak.

 Diiringi dengan beat-beat elektronik disko membosankan, repetitif dan mencoba memasukkan sedikit elemen musik timteng pada intro yang nampaknya missmatch. Sepanjang 1 menit 30 detik, kita hanya disuguhkan beat-beat monoton yang semakin lama didengar semakin menganggu, ditambah dengan hook-hook yang tak kalah cheesy dan garing.

Lirik-lirik sama sekali tidak menjelaskan sedikit alur cerita mengenai film ini, ditambah dengan potongan dialog yang sengaja dimasukkan pada lagu, semakin menambah kekacuan pada lagu ini. Untungnya kanal youtube Multivision Plus mengunggah seluruh episode Jin dan Jun dengan opening terpisah. Sehingga saya tidak perlu repot-repot menekan tombol fast-forward untuk melewati bagian ost dari sinetron ini.

Baca Juga : Yanti Bersaudara – Anggrek Merah – Review

Tuyul dan Mbak Yul (1997)

 Rating : 7 / 10

Ost-Sinetron-Tuyul-dan-Mbak-Yul

Meski plot nya terkesan maksa yakni tuyul yang insyaf untuk mencuri, tetapi sinetron ini masih masuk dalam kategori ikonik dan populer di masanya. Sesuai yang dikatakan tadi, seorang tuyul  bernama Ucil yang diperankan oleh Ony Syahrial, memutuskan untuk insyaf dan tidak mau mencuri lagi. Ucil pun kabur dari tempat asalnya di gunung. Namun karena perbuatan Ucil yang justru dinilai menyalahi kodrat alam jin, sang raja tuyul memutuskan 2 algojonya Sontol dan Bongol (awalnya) untuk menangkap si Ucil.

Pada saat pelariannya, dia tidak sengaja bertemu dengan mahasiswi bernama Yulia yang diperankan Dominique Sanda (awalnya). Lantas Ucil meminta bantuan kepada Yulia untuk menyembunyikannya. Kemudian dibawalah Ucil ke rumah Yulia. Disinilah plot setiap episode dimulai yakni Ucil yang harus menghindar dari kejaran algojo pada setiap episodenya, yang terkadang dibantu oleh Yulia.

Sementara ost dari Tul dan Mbak Yul sendiri diciptakan oleh Ozy Syahputra. Dibanding dengan ost sebelumnya, ost ini  menjadi konik lebih dikarenakan segi vokal dan lirik yang diciptakan Ozy dibanding bagian instrumentnya. Secara instrument tidak terlalu banyak yang bisa digali secara mendalam. Mungkin intro cukup memorable menjadikan sedikit plus point, itupun dibarengi dengan sautan vokal Ozy yang membuat intro ost ini memorable.

Selling point ost ini sepenuhnya terletak pada vokal Ozy dan juga lirik yang ia tulis. Dibanding dengan lagu Jin dan Jun, lirik ost Tuyul dan Mbak Yul jauh lebih deskriptif. Mulai dari pereknalan tokoh, menceritakan masalah, hingga solusi dari masalah tersebut semua diceritakan secara padat hanya dengan durasi  kurang dari 2 menit. Tentunya timbre ikonik dari vokal Ozy juga membuat lagu ini semakin memiliki karakter khasnya.

Satu hal yang membuat lagu ini cukup memberi nilai positif dari segi musikalitas adalah struktur lagunya sendiri. Ozy sengaja menaruh hook dan chorus di paling belakang, membiarkan storytelling dari kisah ini berakhir dulu. Dia juga cukup banyak memberikan improvisasi vokal pada chorus membuat chorus setidaknya tidak terlalu terdengar simpel dan cheesy.

Boneka Poppy (2000)

Ost-Sinetron-Boneka-Poppy

Opening Ost Rating  : 7 / 10

Ending Ost Rating : 6 / 10

Saya menilai sinetron yang pernah tayang selama tahun 2001- 2002 di SCTV ini, merupakan proyek supergrup dari Multivision Plus. Bagaimana tidak, beberapa artis top di masanya main dalam sinetron ini. Adam Jordan (Tommy), Diana Pungky (Poppy), Eko Dj (Satpam Kamal), Nova Eliza (Sandra), Roy Karyadi (Paman Tommy), Beniqno (Dony), Yusuf Surya (Ceking), dan pemeran lainnya turut membintangi film ini.

Plot cerita bermula dari sang pemilik butik bernama Tommy yang ditinggal mati oleh sang kekasihnya, Poppy pada saat hari pertunangan mereka. Setelah pemakaman ,Tommy pergi ke gudang butik miliknya dan tanpa sengaja ia menemukkan patung mannequin perempuan. Tommy merakit mannequin itu dan memasangkan cincin pertunangannya pada jari boneka tersebut. Tak disangka boneka itu tiba-tiba hidup dan sesuai dengan perkiraan kalian, boneka tersebut memiliki wajah yang mirip sekali dengan Poppy.

Boneka Poppy sendiri memiliki 2 ost yakni pada saat pembukaan dan penutupan pada setiap episodenya. Meski ost ending terdengar lebih familiar dan ikonik karena liriknya, tetapi bagian opening terdengar bagus dari musikalitas sehingga rasanya pantas untuk di-review.

Pada ost pembukaan, sang pencipta lagu, Didi Agp menyuntikan elemen musik vintage  era 60 – 70’an. Sang vokalis, Netta Dewi terdengar sedikit ingin menyuntikan getaran energy vokal rock’n roll meskipun tetap dengan warna vokalnya yang lembut dan feminim.

Lagi, Didi Agp masih menerapkan style produksi dan instrumentation yang padat dan multi-layered. Lagu ini memiliki solo gitar, lagu ini memiliki interlude instrument extentable, dan lagu ini memiliki timbre instrument beragam seperti suling, keyboard, terompet,synth, dan perkusi. Sayangnya, ketika memasuki bagian chorus dengan interval nada lebih tinggi, saya merasa awkward. Bukan karena warna vokal Netta Dewi tetapi lebih pada seperti kurang cocok untuk menaikan interval secara paksa seperti itu.

Beralih pada sisi koin sebaliknya, ending ost memiliki vibes dan elemen musik yang 180 derajat berbeda. Lagu ini terdengar electro-oriented dengan penerapan synth dan permainan appregio keyboard elektrik yang banyak berseliweran. Lirik lagu ini saya rasa terdengar lebih ikonik dibanding lagu pembuka. Silahkan mebaca penggalan lirik di bawah ini, dan anda akan secara otomatis menyanyikan dengan nada lagu asli ini (jika sebelumnya anda tahu lagu ini).

‘Boneka Poppy, Cantik Sekali

Walaupun Wujudmu Hanya Bisa Kaku Saja,

Cintamu Poppy Tak Pernah Mati,

Tersimpan di dalam Cincin Kekasihmu Itu’

Sayangnya tidak ada versi full ost ini di kanal Youtube, sehingga saya hanya dapat menilai sepotong dari lagu ini saja ketika kredit akhir setiap episode muncul.

Putri Duyung (1999)

Ost-Sinetron-Putri-Duyung

Rating 10 / 10

Satu-satunya sinetron yang digarap di luar rumah produksi Multivison Plus hadir dalam list kali ini. Film besutan Soraya Intercine Films ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Domba yang tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis di pantai. Domba menanyakan tempat tinggal gadis tersebut, namun karena ia tidak bisa bicara, Domba membawa pulang gadis tersebut.

Tak disangka gadis tersebut ternyata jelmaan putri duyung, dan domba menamai gadis tersebut Intana. Sang pemeran utama, Zainal Abidin Domba dan Ayu Azhari sangat sukses memerankan masing-masing karakternya dengan begitu kuat, sehingga sinetron yang satu ini sukses dimasanya dan masih terasa ikonik sampai sekarang. Tetapi jangan lupakan ost mereka yang menurut saya hingga detik ini masih layak menyandang predikat sebagai salah satu ost sinetron Indonesia terbaik.

Dibungkus dengan iringan piano smooth jazz dan dentuman gendang membuat lagu ini 100% menggambarkan vibes eksotis, dengan panorama visual pantai yang begitu terpampang jelas. Dengan transisi begitu halus, masuknya vokal Pita Loppies semakin memperkuat citra classy dan smoothness dari rangkaian lagu ini. Vokalnya memiliki karakter begitu kuat, meski dikemas dengan tone vokal yang lebih tender.

Kita sampai pada bagian paling fenomenal dari lagu ini yaitu liriknya. Penulisan lirik banyak dibumbui dengan majas personifikasi dan metafora yang dapat menjelaskan setiap keadaan terkesan lebih emosional dan menyentuh. Mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan plot garis besar cerita, tetapi karena lirik disampaikan dengan banyak penekanan bahasa-bahasa cinta. Secara tidak langsung lirik lebih mengarah pada kisah asmara dari Domba dan Intana.

Meskipun lirik memiliki motif puitis untuk seukuran ost film, tetapi Pita Loppies memilih seluruh diksi lirik dengan kata-kata yang mudah diserap. Menjelaskan mengapa lirik di lagu ini begitu melekat dan terngiang-ngiang meski dsajikan dengan motif puitis.

Saya tahu, meski alur dan instrument dari lagu ini tidak orisinil-orisinil amat, karena terkesan menjiplak lagu Sway versi Michael Buble. Tetapi sekali lagi berkat improvisasi vokal Pita Loppies, dia mampu memangkas elemen latin dari versi asli lagunya menjadi terdengar lebih smooth-jazz oriented, sehingga muncul sebuah panorama baru yang tidak dimiliki versi aslinya.

Baca Juga : Saint Ali – From the Seashore of the Barus to Firmament of Debata – Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.