Nas : King Disease II Review

Nas : King Disease II Review

Nas kembali membuktikan meskipun diluaran sana masih banyak rapper dan MC yang lebih baik. Tetapi berkat knowledge, pengalaman hidup dan kekuatan storytelling yang powerfull. Membuat Nas akan selalu menjadi prophet dalam dunia hip-hop dan tidak akan ada yang bisa menggantikan peran tersebut.

Nasir Jones rapper legendaris asal Queensbridge yang biasa akrab dengan sebutan Nas menginjak usianya yang ke 47 ditahun ini. Selama 2 dekade lebih Nas tidak hanya menjelma menjadi seorang rapper dengan segudang achievement dan karya monumental. Tetapi Nas memposisikan dirinya sebagai seorang prophet sekaligus thug narator dibalik narasi setiap bar lirik yang dia keluarkan. Semenjak album debutnya, “Illmatic” dilepas pada tahun 1994. Nas selalu menyisipkan liriknya dengan tema-tema nasihat filosofi kehidupan yang diproyeksikan ke dalam berbagai fragment sub-tema. Seperti kesadaran sosial, kehidupan di jalanan, sejarah, dan berhubungan dengan lifestyle dari dirinya pribadi.

Visi ini nampaknya tidak sedikitpun luntur dari seorang Nas meskipun usianya sudah tak lagi muda. Justru sebaliknya dia terus menguatkan fondasi visinya lewat perspektifnya yang tajam hingga akhirnya tercetus ide untuk membuat sebuah project album saga yang berjudul “King Disease“. “King Disease I” dilepas ke publik pada tahun 2020. Kerjasama Nas, dengan producer hip-hop kawakan Hit-Boy menuai hasil positif bagi “King Disease I”. Perpaduan “Poet Educational” Nas, dengan sentuhan midas dari Hit-Boy menghasilkan materi yang solid baik dari segi songwriting maupun post-production. Tidak heran follow up nya “King Disease I” diganjar oleh penghargaan grammy awards pada tahun lalu.

Pada tanggal 10 agustus 2021, secara mengejutkan Nas mengumumkan bahwa King Disease II akan dirilis tahun ini. Terdengar seperti kabar baik tetapi ada juga yang meragukan keputusan perilisan King Disease II di tahun ini. Mengingat “King Disease I” baru saja dilepas tahun lalu dan masih cukup hangat diperbicangkan hingga saat ini. Kedua Nas jarang merilis album hanya dengan gap waktu 1 tahun. Terakhir dia melakukan itu pada tahun 2001 dan 2002. Sehingga muncul persepsi yang skeptis apakah “King Disease II” akan sebagus dan sematang album predecessor nya?

Nas : King Disease II Review

King Disease II memang memiliki perbedeaan dengan King Disease I. Tetapi perbedaanya bukan seperti sebuah flip-side coin. Masih ada energi-energi “King Disease I” pertama yang masih menempel di album ini. Album ini turut menghadirkan kembali Hit-Boy untuk kembali menjadi produser penuh atas album ini. Tetapi King Disease II lebih menekankan vokal point yang dikeluarkan oleh Nas maupun guest star rapper yang mengisi dialbum ini. Dia tidak terlalu banyak bermain dengan metafora yang sulit di interpretasi. Dia menulis liriknya langsung ke inti masalah yang ingin disampaikan. Singkat kata jika King Disease I menitikberatkan perhatian Audience pada kepiawan Hi-Boy memproduksi album. Namun pada King Disease II giliran flow, dan lirik-lirik Nas yang menjadi sentral point atau pusat perhatian.

“King Disease II” dibuka dengan track bertajuk “Pressure”. Secara instrumensasi “Pressure” lebih berorientasi pada beat dan warna sound yang menjurus ke ranah hip-hop modern. Instrumen bergerak secara lamban, moody, dan sesuai dengan pace dari flow “Nas”. Nas membuka album ini dengan pesan motivational. Dia bercerita bahwa dia banyak menolong orang dengan berusaha mendirikan “scholarship” dari satu kota ke kota lain. Nas juga bercerita bahwa dia tidak ada hentinya untuk menjadi inspirasi bagi orang. Dia menganalogikan perbuatannya seolah dirinyalah yang menanggung seluruh beban dunia di pundaknya.

Hit Boy dan Nas setuju untuk membuat sequencing di album ini memiliki 2 arah. Selain memproduksi lagu dengan setup instrument yang vintage, pada album ini juga ditemukan beberapa track dengan nuansa dan instrument yang modern dan mengikuti trendy hip-hop era sekarang. Track “40 Side” dipenuhi dengan irama yang santai dengan beat-beat memphis trap. Nas juga memasukan ketukan-ketukan “triplet” ala Drake ke dalam flownya. Kemudian track “YKTV” memadukan beat-beat bouncy dan modern. Perfomance dari Lil’Tjay dan A Boogie Wit Da Hoodie juga cukup mengangkat perfomance lagu ini dibalik elemen instrumentnya yang tidak begitu strong.

Sementara track “Store Run” merupakan perwakilan sisi retrospektif dari Nas pada album ini. Selain menampilkan beat-beat boom bap vintage yang memberikan nuansa nostalgia. “Store Run” turut menceritakan masa lalu dirinya. Track “Count Me In” terkesan lebih moody, mengalir, dan tidak banyak memberikan elemen-elemen kejut. Sementara “Composure” memiliki nuansa yang lebih jazzy. Hit-boy juga turut menyumbangkan satu verse pada lagu ini.

Baca Juga : Mos Def & Talib Kweli are : Black Star Review

Nas : King Disease II Review

“Rare” merupakan singel yang dipilih oleh Nas. “Rare” seperti terbagi menjadi 2-sides. Side pertama menampilkan formulasi sound yang mengalir dengan flow Nas yang lebih santai. Tetapi masuk pertengahan lagu switching beat terjadi, dan tempo lebih cepat. Nas pun tak hentinya mendeliver rapline demi rapline yang punchy. Sementara “EPMD2” merupakan track daur ulang Nas yang diambil dari project Judas and The Black Messiah. “EPMD2” tidak hanya menambah porsi rap dari Nas. Tetapi juga turut mengundang sang “rap god” Eminem. EPMD membuka track ini dengan flow-flow vintagenya yang khas dan comfortable mengisi beberapa bar lagu. Eminem kemudian hadir di penghujung track. Tetapi mungkin yang sudah lama mengikuti Eminem, versenya tidak terlalu spesial.

Selain memproduksi track-track banger, “King Disease II” juga memiliki tracklist dengan nuansa yang lebih kalem, romantic, dan manis. Track ‘Nobody’ diiringi dengan beat-beat boom bap yang menghentak tapi santai. Selain itu track ini dilatari dengan fusion antara sound saxophone jazzy dan elemen RnB. Perfomance Nas di lagu ini tidak semenonjol lagu lainnya, karena Nas seolah sengaja memberikan “panggungnya” untuk Lauryn Hill di lagu ini. Selain vocal Lauryn Hill yang renyah dan bad-ass, flownya juga tampak menyatu dengan sektor instrument. Sementara track “No Phony Love” Nas berkolaborasi dengan vokal Charlie Wilson. Tidak heran track ini memiliki elemen soul, Rnb 70’an yang begitu kental berkat hadrinya vokal Charlie.

“Brunch on Sundays” dan “My BIble” punya nuansa yang serupa meskipun eksekusinya berbeda jauh. Keduanya memiliki nuansa yang lebih warm dan lebih mirip dengan lagu-lagu hip-hop dari West Coast. Nas juga turut memasukan funky groove basline pada lagu “My Bible”. Lagu yang memiliki taste west-coast hip hop yang kental bahkan lebih kental dari album ‘It Was Written” yang diproduseri oleh Dr.Dre. Instrument dalam lagu tersebut dikonsepsi dengan sangat mendetail serta memiliki layer sound yang colorful. Perpaduan antara beat yang banger dengan flow dari nas, merupakan “Deadly Combination” yang bisa dipersembahkan pada lagu ini.

Track “Death Row East” sepertinya akan menjadi track yang menarik jika dijadikan singel berikutnya. Track ini menceritakan tentang momen pivotal dari scene hip-hop, yaitu pertemuan antara Nas dengan 2PAC di New York pada tahun 1996. 2PAC dan Death Row yang saat itu berkunjung ke New York untuk melebarkan sayap bisnisnya, mencoba mendirikan “Death Row East” di New York. 2PAC saat itu memiliki konflik dengan NAS, kemudian keduanya bertemu di Central Park. Bak 2 orang jendral yang mewakili masing-masing Coast. Nas & 2PAC akhirnya berdamai dan berencana untuk berkolaborasi. Namun takdir berkata lain beberapa hari setelah kejadian itu, 2PAC ditembak secara mengenaskan.

Baca juga : Pop Smoke : Faith Review

Track tersebut tidak hanya mengajarkan pelajaran sejarah. Tetapi juga ada beberapa informasi penting yang ternyata belum banyak diungkap sebelumnya. Seperti Eric B, Big D, Preme, dan Napoleon juga terlibat dalam insiden ini. Selain itu pada beberapa bar terakhir di track ini menyisakan sebuah pertanyaan apakah Nas sempat mengunjungi 2pac ketika ia dirawat atau tidak.

I flew to Vegas to shoot the Street Dreams video and link with Tupac
Tried to squash the East Coast West Coast beef
We didn’t talk
But he was still alive in the hospital
And it rained that day in Vegas (yo, chill out, chill out, yo)
Rest In Power

Dengan pesan yang lebih kuat, kekuatan vokal Nas lebih tersentral saya berani berucap bahwa “King Disease II” lebih baik dari album “King Disease I”. Produksi dan eksekusi dari Hit-Boy di album ini juga jauh lebih dinamis dari pendahulunya. Perpindahan nuansa dari masa lalu ke masa depan secara paralel seperti menggambarkan seorang Nas yang bisa menembus batasan dimensi dan menyebarkan pesan-pesanya tanpa terhalang oleh dimensi waktu. Nas kembali membuktikan meskipun diluaran sana masih banyak rapper dan MC yang lebih baik. Tetapi berkat knowledge, pengalaman hidup dan kekuatan storytelling yang powerfull. Membuat Nas akan selalu menjadi prophet dalam dunia hip-hop dan tidak akan ada yang bisa menggantikan peran tersebut.

Rating : 8/10

Baca Juga : Tyler, The Creator : Call Me If You Get Lost Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.