Metal Ndas Garis Keras (Part I)

4 Album Metal Wajib Didengarkan oleh para pecinta metal ndas garis keras. Meliputi Atomwinter, Daging, Depth Above, dan A God or An Other.

Sebenarnya disadari atau tidak, seiring bertambahnya tahun sebagian besar dari kita lebih tertarik menggali album atau musik keluaran tahun terbaru. Didukung dengan maraknya artikel review, rekomendasi, serta channel promosi musik yang lebih condong memberikan rekomendasi album terbaru, secara tidak langsung memusatkan perhatian kita sepenuhnya hanya pada katalog-katalog album terbaru. Saya rasa ruang dan waktu kita semakin sempit untuk kembali menggali rilisan-rilisan lama yang belum pernah mampir di playlist pribadi sama sekali. Apalagi ketika kita sudah dihinggapi rasa nyaman dan tidak mau beranjak sedikitpun dari musik-musik yang sudah menjadi favorit sejak lama. Rasanya kita seperti harus berpikir 2 kali apakah bersedia meninggalkan zona nyaman untuk suatu ketidakpastian.

Atas dasar pemikiran itulah, saya membuat series ini, yaitu untuk memberikan ruang lebih luas lagi terhadap rilisan-rilsan album, yang mungkin sudah dibilang out of date secara periode waktu, tetapi belum sama sekali usang dalam segi musikalitas. Memberikan setitik harapan, untuk menurunkan persentase ketidakpastian setidaknya menjadi 60-70%. Siapa tahu dengan hadirnya series ini bisa memberikan benefit of the doubt terhadap kalian untuk menemukan sebuah adiksi baru terhadap musik-musik yang terkesan asing ditelinga.

2018

Sebagai permulaan, saya mulai dengan rilisan-rilisan album dari tahun 2018. Saya sebagai pendengar dan peikmat musik merasa bahwa tahun 2018 merupakan tahun paling krusial. Saya pribadi lebih intens dan lebih rajin menggali rilisan album-album terbaru. Pandangan, apresiasi, dan penilaian saya terhadap suatu karya musik menjadi lebih terasah. Sebelumnya saya hanya memandang musik sebagai sebuah sarana hiburan, yang bilamana jika musik tersebut tidak berhasil menggugah selera akan saya lupakan begitu saja. Tetapi masa periode 12 bulan di tahun 2018, telah melahirkan sebuah sudut pandang dan mindset baru terhadap saya dalam hal mengapresiasi musik.

Saya menganalogikan bahwa mendengarkan musik sebenarnya sama seperti menemukan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ketika dihadapi sebuah album musik yang sulit dicerna, anda selalu dihadapkan 2 pilihan. Pilihan pertama yaitu berdalih bahwa musik ini bukan selera saya dan meninggalkanya. Atau berusaha mencerna dan meikmatinya dengan berbagai cara seperti mencari tahun informasi musik bersangkutan, dan sebagainya. Saya tidak berkata bahwa 100% orang yang selalu berdalih dalam mendengarkan musik, akan melakukan hal yang serupa bila menemukan kesulitan dalam kehidupannya, tidak demikian. Setidaknya ini menjadi pegangan pribadi saya, bahwa dalam melakukan hal apapun termasuk mendengarkan musik, memang harus ada effort dan pengorbanan yang dikeluarkan.

Kembali pada cerita saya menggali musik di tahun 2018, saya menemukan puluhan band yang mungkin akan sangat panjang bila diceritakan dalam satu artikel. Jadi sebagai permulaan saya hanya memberikan 4 album yang pada waktu itu sering berseliweran di playlist pribadi. Tanpa panjang lebar lagi, mari kita lanjutkan pembahasan ini langsung pada rekomendasi album di bawah ini setuju?

Atomwinter – Catacombs

Sebelum Blood Incantation, Spectral Voice, dan segudang rilisan 20 buck spin singgah dalam playlist, Atomwinter merupakan salah satu revivalis OSDM yang pertama kali singgah dalam playlist pribadi. Sebelumnya bahkan saya tidak tahu menahu soal term tersebut. Berbicara Atomwinter, awal perekanalan saya terhadap band death metal asal Jerman ini beberapa bulan sebelum album ‘Catacombs’ ini dilepas. Atomwinter sudah lebih dulu memiliki 2 album penuh, yaitu ‘Atomic Death Metal’ (2012) dan ‘Iron Flesh’ (2015). Album ‘Iron Flesh’ menjadi awal jembatan perkenalan saya terhadap Atomwinter. Poin paling penting yang menjadi highlight utama dalam album tersebut, adalah perpaduan musik death metal sekolah lama dari Bolt Thrower, dan Asphyx mejadi tulang punggung musikalitas mereka.

Elemen-elemen tersebut juga masih mendasari alur dan pakem dari album ‘Catacombs’ ini. Riffage tradisional death metal dengan penekanan aspek chunky riff mid-tempo bertemu dengan hentakan-hentakan blast-beat tradisional yang sporadis dalam menghambur-hamburkan kecepatan. Dicoba didengarkan dari sudut lagu manapun pada keseluruhan runtime, ‘Catacombs’ tidak sedikitpun membuat perasaan janggal antara satu lagu dengan lagu lainnya. Semua lagu didesain dengna formula serupa, yakni sebuah album OSDM yang penuh dengan hentakan groovy fill drum dan tone gitar distorted yang menghasilkan aroma-aroma menyengat dari sisa-sisa peperangan. Ya tentu sama hal dengan para inspirator utamanya, Atomwinter juga turut mengangkat tema peperangan menjadi suratan takdir mereka untuk terus mengisahkan hal tersebut dalam musiknya.

Atomwinter bisa jadi merupakan sebuah alternatif, bilamana anda sudah khatam dengan diskografia Bolt Thrower, atau band sejenis namun ingin mencari alur baru tanpa merubah tatanan musiknya. Seperti halnya applikasi veri lite, yang membuang fitur kurang penting dan lebih memfokuskan pada fungsionalitas dari fitur-fitur utama, Atomwinter juga bertindak demikian. Menyerdahankan elemen-elemen musik dari konseptor utamanya, dan lebih berfokus pada core dari elemen musik OSDM, seperti tidak terlalu bermain teknikal, struktur musik lebih straightfoward, dan yang terpenting geraman vokal, pretelan ledakan drum, dan sayatan gitar sama sekali tidak mengurangi kadar kegarangan musik mereka.

Metal-Atomwinter-Catacombs

Depths Above – Ex Nihilo

Sebelum album ini diputar 1 detik, saya sudah beranggapan duluan bahwa album ini akan terdengar badass dan mengerikan. Artwork yang dipoles dengan guratan luar biasa, terlebih lagi Vama Marga sang vokalis dan gitaris sendirilah yang menggarap artwork memukau ini. Ini seolah menjadi konfirmator awal bagi saya, jika artwork nya dikonsepsi dengan sedimikian rupa, harusnya warna musiknya pun harus dibuat demikian juga. Ekspetasi saya tidak berlebihan, namun harapan saya adalah sebuah album black metal yang berjalan sebagaimana mestinya musik black metal secara alami.

‘Ex Nihilo’ menurut saya tidaklah buruk, dan cukup memenuhi ekspetasi awal ditambah dengan sedikit twist. Kord-kord dissonant, tremolo riff diproyeksikan menjadi tekstur multi-layered, serta rentetan double pedal memiliki jarak lebih padat dan rapat menjadikan sebuah latar musik yang secara terus-menerus memberikan sebuah perasaan kegelishan akan sebuah kekuatan negatif yang terus mengintai. Tekstur riffage bisa saja berubah sewaktu-waktu untuk membentuk sebuah sledgehammer yang siap menghantam wajah kapanpun mereka mau.

Saya pribadi lebih menyukai band black metal modern realistis seperti ini dibandingkan band-band modern yang mengadopsi style raw tetapi tidak mampu memaksimalkan potensinya. Depth Above menggunakan unsur yang sudah ada untuk membuat elemen musik black metal terdengar lebih chaotic dan dissonant. Output dari Riffage Depths Above memang tidak se kompleks Deathspell Omega maupun tidak semengerikan Aosoth dalam mengkonstruksi riff. Tetapi Depth Above memunculkan sebuah atmosfir baru dengan rasa lebih melodis, dan gelap dalam satu waktu.

Metal-Depth-Above

A God or an Other – Chaotic Symbiosis

Saya ingat betul bahwa ‘A God or an Other’ merupakan satu dari sekian band yang menjadi latihan pertama saya dalam mereview sebuah album. Ditulis dalam secarik kertas note kecil, saya menulis bahwasanya taglinepost-black metal’ dari mereka sebaiknya dihapus saja dari laman metal archives. Sampai sekarang, ketika saya kembali mendengarkan ulang album ini, pendapat tersebut tidak berubah sama sekali. Semenjak copycat Deafheaven dan Alcest yang sudah tidak terhitung jumlahnya marak bermunculan, blackgaze kerap diasosiasikan dengan tekstur musik black metal namun memiliki rasa-rasa melankolis dan kelabu dari ekstrasi elemen musik shoegaze.

Padahal ‘A God or an Other’ tidak memiliki tendensi musikalitas demikian, bahkan sangat bersebrangan. Album ‘Chaotic Symbiosis’ ini memiliki struktur musik atmospheric black metal yang dileburkan dengan elemen-elemen post-metal. Rentetan tremolo padat dihiasi dengan atmosfir-atmosfir sludgy sering dijumpai pada beberapa momen momen penting album ini. Build up atmosfir juga dibuat dengan rasa lebih pekat, intens, dan tidak jarang juga malah lebih terdengar seperti atmosfir musik death metal dengan experience mencekam.

Highlighted momen dalam album ini juga seolah terbagi 2, adakalanya tekstur musik lebih bersifat atmosferik, seolah bertindak sebagai pengarang cerita, yang menarasikan ekspresi dan emosi lewat tekstur musik. Sisi lainnya, elemen musik terdengar lebih rancak, dan brutal seolah sebagai penerima cerita yang menerima konsekuensi emosional bergejolak ketika mendengarkan suatu kisah mengerikan. Sayangnya, ‘Chaotic Symbiosis’ menjadi bab terakhir dari band asal Seattle ini. Pasalnya ‘A God or an Other’ membubarkan dirinya ditahun yang sama, ketika album ini dilepas.

Metal-A-God-Or-An-OthER

Daging – Nafsu

Relasi saya terhadap musik brutal death metal seperti halnya pasangan suami istri dalam berhubungan intim. Ketika mencapai sebuah titik jenuh mendengarkan musik brutal death metal, saya enggan untuk mendengarkan musiknya sama sekali untuk beberapa hari atau minggu lamanya. Tetapi ketika rasa gairah akan mendengarkan musik brutal death metal sudah memuncak, saya bisa secara terus menerus tanpa henti mendengarkan jenis musik ini, dan tidak membiarkan musik lain mengiterupsi rasa “orgasme” saya terhadap brutal death metal. Sekali lagi tahun 2018, merupakan masa-masa yang membuat rasa orgasme saya lebih tinggi dan awet terhadap musik brutal death metal dibanding rasa bosannya.

Tak terhitung jumlahnya band brutal death metal yang saya temukan sepanjang tahun 2018, dan Daging band brutal death metal asal Surabaya masuk ke dalam kantong saya. Tidak mengharapkan suatu yang wah ketika saya pertama kali menemukan album ini, karena ekspetasi saya hanya satu yakni menemukan album brutal death metal ganas dan tetap mempertahankan aroma kebusukannya. Daging seolah menuruti permintaan tersebut dan mengeluarkan potensi musikalitasnya yang disebarkan ke dalam bentuk riffage jagal brutal, hantaman drum membabi buta, dan vokal yang sama sekali tidak menampilkan sisi simpatik dari manusia.

“Pembantaian massal” yang dilakukan Daging, sukses membuat jalan keseluruhan album ‘Nafsu’ memuaskan hasrat dalam pencarian musik dengan intensitas brutal. Positifnya, Daging juga turut menyisipkan tempo-tempo dan rasa riffage chrunchy nan groovy yang sangat cocok dijadikan tandem ber-headbang ria. Pattern-pattern vokal yang biasa terpinggirkan dalam jenis musik seperti ini, dirangkul lebih dekat oleh Daging agar dapat menghasilkan pattern-pattern vokal memorable dan juga menjadi pembeda antara setiap lagu.

Metal-Daging

Baca Juga : Soulreaper : Asupan Musik Tercadas di Indonesia (Eps – 01)

Leave a Reply

Your email address will not be published.