Band Noise Rock Jepang, 385 Mencoba Mendalami Emosi Manusia

” Band noise rock asal Jepang, 385 yang beranggotakan Miya, Tengan, dan Masayuki mencoba memadukan keliaran musik hardcore dengan ritmik serta ketukan kompleks dari musik jazz. “

Siapa yang mengira awal perkenalan saya dengan skena noise rock Jepang bukan diracuni oleh sekumpulan anak skena rock, melainkan dikenalkan oleh seorang bocah SMA yang fanatik terhadap kultur jejepangan. Ceritanya begini, saat itu saya lagi asik nyetel musik thrash metal, engga lama berselang teman sepupu saya itu datang dengan setelan ala-ala wibunya.

Dengan sengaja saya mengencangkan volume speaker, sambil berujar dalam hati “oi wibu, sekali-kali dengerin musik cadasan dikit, jangan vokal imut mulu biar rasa kejantanan mu lebih keluar.” Alih-alih menutup kuping atau berteriak (reaksi awam orang mendengarkan musik cadas), dia malah bertanya begini “ Kak, seneng musik keras juga? ” Saya kemudian menjawab dengan nada sinis, “ ya sukalah dikit-dikit. ” Belum ada 10 menit dia duduk, dia sudah melontarkan punchline berikutnya berupa sepatah kalimat “ boleh liat isi playlistnya? ”

Jelas saya kaget dan akhirnya aktifitas dilanjutkan dengan ngobrol dibarengi tuker-tukeran playlist. Baru sekitar 15 menitan saya dengerin lagu-lagu cadas di ponselnya, saya merasa bahwa riff-riff Kerry King dan lengikingan vokal Tom Araya yang barusan saya dengar jadi terasa lembek sesaat. Nama-nama seperti Melt-Banana, Bleach, Number Girl, Midori, dan Boredom nangkring di playlist utamanya dia. Tak lama sepupu saya datang menghampiri temannya itu dan keduanya pergi ngeloyor meninggalkan saya sendirian dalam kebingungan.

Gara-gara kejadian itu, sekarang saya malah lebih tertarik menggali rilisan noise rock Jepang, dibanding nungguin para dedengkot thrash bikin album bertaun-taun lamanya hanya untuk rilis album yang musiknya ga jauh beda dari album terdahulunya. Singkat cerita ketika lagi asik nyortir band mana aja yang mau didengerin. Munculah nama 385 dalam halaman similar to milik Melt-Banana di Last Fm. Disitulah awal mula saya berkenalan dengan band noise rock asal Jepang ini.

Noise-Rock-385-Photoshoot-2

Sedikit trivia, 385 merupakan band noise rock asal Okinawa yang terbentuk pada tahun 2008. Sang vokalis, Miya yang merangkap sebagai bassist membentuk band ini sendirian setelah dia keluar dari band lamanya, Bleach. Seiring berjalannya waktu, Miya dibantu oleh 2 punggawa lainnya: Tengan (Drum) dan Masayuki Hasuo (Keyboard).

Banyak yang engga mengira bahwa Miya sebenarnya punya hubungan teman dengan Mariko Goto, gitaris sekaligus vokalis utama bagi band punk jazz Osaka, Midori. Ceritanya selepas Miya keluar dari Bleach dan mendirikan 385, dia kesulitan mencari label yang bersedia buat ngerilis lagu-lagunya.

Akhirnya Goto memutuskan buat nonton live mereka di Shinjuku, dan ternyata Goto langsung kepincut sama gaya musik band 385 yang nyentrik dan unik itu. Selepas acara tersebut, Goto berinisiatif bikin label sendiri dan merilis album debut 385 di bawah labelnya.

Baca Juga : Maggot Heart Ketika Band Rock Terkadang Bisa Lebih Gelap Dari Metal

Sebetulnya mengelompokkan musik band-band noise rock di Jepang ke dalam satu kategori serupa ga akan bisa sekaku dan semudah ketika kalian ngebedain antar genre musik pada umumnya. Pertama, dari setiap band sudah memiliki keunikan yang hampir pasti sulit buat dijiplak oleh band lainnya.

Kedua, komponen-komponen musik noise rock terlalu luas. Ruang lingkupnya ga cuman main di sekitaran rock dan punk biasa, tapi juga bisa merambah ke jazz, funk, psych, dan musik lainnya. Contoh nyatanya ya seperti band 385 yang musiknya tersusun dari ketukan drum profokatif hardcore punk, bass dengan tone nge-funk abis, serta irama piano lengkap dengan jazzy melody.

Masih belum terdengar nyentrik? Ok, saya lupa menyebutkan bahwasanya mereka juga sama sekali engga melibatkan departemen gitar ke dalam musiknya. Jadi jembatan kalian buat menikmati riff, serta melodi menohok dari musik-musik 385 hanya dalam keyboard dan bass saja.

Mereka juga doyan banget sama yang namanya ketukan nyeleneh dan tempo kejar-kejaran ala musik swing. Biasanya kalau dengerin musik dengan peran bass dan keyboard  menonjol kebanyakan adanya dalam musik-musik funk 70’an atau be-bop Jazz. Namun ketika kalian baru sekali mendengarkan ep debutnya 385, 脳みそあらおう bisa jadi anggapan di atas keliru.

Mungkin terkesan berlebihan, tetapi mendengarkan rangkaian keseluruhan album tersebut rasanya seperti mendengarkan album-album Herbie Hancock, RHCP, Melt-Banana, dan Merzbow disetel secara bersamaan. Vokal Miya juga seolah gamau ketinggalan, membuat kalian geleng-geleng kepala. Dibalik warna vokal feminis nya yang imut dan energik, teriakan lantangnya membuat suasana musik berubah menjadi keos seketika.

Selain melepas 2 ep, mereka juga merilis sebuah album penuh berjudul ‘Ningen (Human)’ dan rilis ditahun 2013. Biasanya kalau saya sudah mendengarkan musik kelewat kompleks seperti ini, saya sudah ngga peduli lagi dengan yang namanya tema lirik. Tetapi kali ini ada pengecualian lah, toh mereka juga sudah membuat konsep tema lirik yang ok banget pada album ‘Ningen’ (Human).

Noise-Rock-385-Ningen-Cover

Pada album tersebut, mereka berusaha mencoba menilik ke dalam setiap diri manusia untuk mencari sisi-sisi emosi negatifnya. Kemudian mereka ingin merubah emosi-emosi tersebut menjadi sesuatu hal yang berbau positif. Secara konsep musik, ‘Ningen (Human)’ sebetulnya tidak jauh berbeda dari ep terdahulunya, hanya saja secara alurnya terkesan lebih tersusun.

Trio Miya, Tengan dan Masayuki engga cuman bikin komposisi musik yang brutal dan liar saja, tetapi chemistry ketiganya juga sanggup memancarkan sisi kelebihannya masing-masing. Lagu ‘Freedom’, ‘Koi Ga Wakarai’, ‘Butsoyoku Society’, ‘Utsukusshi Katou’ menjadi ajang pamer skill dari ketiganya, ditambah vokal Miya yang berubah-ubah menyesuaikan dengan alur musik. Kadang Miya mengeluarkan suara feminimnya, kadang juga dia selingi dengan teriakan serta pelafalan semi-rapping nya.

Sementara lagu-lagu seperti ‘Kyokutan Na Hitoachi’, ‘Makka Ni Moteru’, ‘Ongaku’ emosinya lebih meledak-ledak dengan lebih fokus bikin konsep musik yang riuh.

Setiap personil nampaknya mengeluarkan emosi amarahnya yang memuncak. Tetapi itu memang sudah menjadi tugas mereka, untuk mengubah emosi negatif tersebut menjadi suatu hal berbau positif dan produktif. Sehingga dari konsep tersebut lahirlah karya musik noise rock yang bakal memompa semangat dan energi ketika setiap kali mendengarkannya.

Baca Juga : Deap Vally – Garage Rock Melawan Seksisme Dengan Kebisingan

Leave a Reply

Your email address will not be published.